"Ari neng na kunaon?" Ibu mulai menangis.
".... Cape..." Aku mencoba bicara dalam isak tangisku..
Itu adalah cuplikan tentang apa yang terjadi di tanggal 18 Mei. Kejadian ini terjadi ketika adzan maghrib berkumandang. Let me tell you the previous story.
Hari itu benar-benar hari sibuk untukku. Tidur jam 1 dinihari. Dan bangun jam 5. Aku mengurungkan niatku untuk kembali ke atas tempat tidur. Terlalu banyak acara dihari ini.
Pagi itu, aku siap-siap ke sekolah dengan pakaian betaso (bebas tapi sopan) untuk berkonsultasi tentang kuliahku nanti. Selain itu juga, aku sudah punya janji dengan beberapa temanku untuk daftar ujian tulis SNMPTN. Di sekolah, aku bertemu dengan orang yang bisa menenangkan emosiku walau hanya dengan bertatapmuka. Aku bersikap welcome padanya. Dan dia merespon biasa-biasa saja. Tak apalah. Toh, itu salahku juga.
Aku datang menemui wali kelasku untuk meminjam rapot. Aku hendak mem-fotokopinya untuk persyaratan kuliah nanti. Aku benar-benar down ketika aku melihat salah satu mata pelajaran nilainya 70. Dan itu memang murni kesalahanku. Ya Allah... Mood-ku pun langsung berubah. Aku yang tadinya sumringah, sekarang menjadi gelisah. Setelah mem-fotokopi, aku segera menemui teman-temanku yang udah janjian. Padahal kita sudah siap dan tinggal berangkat ke bank Mandiri. Eh, malah ada satu lagi temen yang mau ikut daftar. Kita dibikin ribet sama dia. Mana orangnya rewel banget. Pas fotonya harus diedit segala. Dan disitu ga ada yang bisa walopun laptopnya ada. Dan temen aku yang satu itu berada di kerumunan yg ada dia. Dia terlihat sedang ketawa-ketiwi dengan teman dan pacarnya. Sedangkan aku? Aku pucat. Pusing. Dan mood lagi jelek. Sampe-sampe aku gak menghiraukan ajakannya untuk pulang duluan. Lebih tepatnya, dia mau main dengan pacar dan teman-temannya. *tarik nafas*
Nyampe bank Mandiri. Astaga antriannya... Lumayan setengah jam berdiri di antrian. Dan sukses bikin aku tambah bad mood. Ditambah lagi, orang itu sok ngasih perhatian, atau, memang dia peduli padaku. Dia mengirim pesan agar aku tidak lupa meminum obat. Saking emosinya, aku pun membalas :
"IYA!
GAK PERLU NGASIH TAU.
PULANG DULUAN AJA GAK NGASIH TAU"
Balasanku yang pertama. Dia membalas lagi. Dengan pembelaannya.
"KAMU BILANGNYA KE TEMENKU AJA!
DEKETIN DULU NAPA?
UDAH MAH LAGI BAD MOOD TINGKAT TINGGI!!!!
A****G!"
Aku benar-benar diluar kendali. Aslinya kata-kata itu gak disensor. Dan asli memakai caps semua. Aku bukan bermaksud mengatakan A****G padanya. Tapi pada situasi yang sedang aku alami sekarang. Akhirnya dia salah paham.
Selesai transaksi, diluar udah gerimis. Ini gimana mau ke vendor malah ujan? Aku dan ketiga temanku segera naik mikrolet untuk pulang. Mataku sudah tak kuat menahan ngantuk.
Sampai rumah alhamdulillah hujannya reda. Walaupun masih gerimis. Aku shalat dhuhur terlebih dahulu. Entah kenapa aku malah menitikkan air mataku ketika berdoa setelah shalat. Aku pun tarik nafas dalam-dalam, dan siap untuk berangkat ke vendor.
Jalanan ke vendor benar-benar membuatku jengkel!! Motorku baru saja diambil dari pencucian motor, malah kena banyak lumpur. Sampe helm juga kotor. Aduh, ini gimana ke GO sementara penampilanku sudah seperti buruh tani?
Setelah dari vendor, aku pun tancap gas untuk bimbel. Telat. Gak apa-apa deh. Dari pada gak hadir. Jam kedua. Bahasa Inggris. Padahal ini mapel favoritku. Tapi aku gak bisa konsentrasi. Terlalu banyak pikiran yg mengganjal benakku.
Dalam perjalanan pulang, aku melihat dia bersama ibunya. Aku membunyikan klakson. Tapi tetap melaju. Aku melihat dari kaca spion. Ternyata dia melihatku.
Sampai dirumah. Aku berdiri sejenak di depan tv melihat acara yang disiarkan. Aku masih mengenakan helm. Pandanganku kosong walaupun aku menonton tv. Tiba-tiba ibuku berkata:
"Neng, kan sekarang libur. Sok 'belajar' gantiin puasa kemarin. Shalat yang bener.."
Aku terhenyak dengan kata 'belajar'. Aku sudah berniat untuk berpuasa esok hari. Aku benci kata 'belajar' padahal aku sudah bisa tanpa disuruh 'belajar' lagi. Aku menarik nafas panjang dan masuk kedalam kamar. Kubuka helm yang tadinya masih nangkring di kepalaku. Aku sengaja menjatuhkannya. Tadinya aku mau membantingnya. Aku duduk di kursi depan meja komputer. Masih mengatur emosi. Tapi tidak bisa. Aku tendang helm itu. Sehingga ibu masuk ke kamar.
"Kenapa, lagi? Ngambek-ngambek ga jelas. Gimana nanti kalo jauh dari ibu?"
Mataku mulai berkaca-kaca. Aku menangis. Aku mencoba untuk tidak terisak. Tapi, semua masalah yang ada di hati dan pikiranku ini seolah-olah meronta ingin keluar lewat isak tangisku.
Ibu masuk ke kamarku lagi.
"Neng, kenapa?" Ibu mulai menangis dan mendekap kepalaku. "Ada apa disekolah tadi? Kenapa?"
Aku mencoba mengatur nafas. Tangisku makin menjadi-jadi. Tangisku pecah ketika adzan maghrib berkumandang. Aku pub berbicara ".... Cape..." Sambil terus terisak.
"Sama... Ibu juga capek.. Ibu cuma pengen neng shalat yang rajin. Neng mau jauh dari ibu.."
"Tapi jangan bilang belajar. Karena aku udah bisa, bu..." Balasku sambil terus terisak.
"Iya... Udah.. Hampura Ibu, nya.." Ibu ngusap airmataku.
Aku tau. Aku memang lelah dengan semua masalah yang aku alami. Tapi, Ibuku jauh lebih lelah menjadi Ibu sekaligus Ayahku dan menjadi tulang punggung keluargaku sekarang.
Terimakasih, Ibu....
----------
Aduh, nangis lagi deh gue. Makasih ya yang udah baca. Semoga dengan tulisan gue ini kalian jadi makin menyayangi dan menghormati ibu kalian masing-masing :')












